Wacana Produksi Bensin dari Batu Bara

Wacana Produksi Bensin dari Batu Bara

Pemerintah tengah berupaya mengurangi ketergantungan pada energi impor dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri, salah satunya dengan memproduksi bensin dari batu bara.

Pemerintah tengah berupaya mengurangi ketergantungan pada energi impor dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri, salah satunya dengan memproduksi bensin dari batu bara.

 

Rencana itu dimulai dengan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutai Timur, yang diresmikan 31 Agustus 2026 dan ditargetkan commissioning pada 2029. (sumber: esdm.go.id).

 

Mengapa Pemerintah Ingin Mengurangi Impor BBM?

 

Mengutip dari ekonomi.bisnis Kementerian ESDM mencatat kebutuhan bensin nasional saat ini telah mencapai 40 juta kiloliter per tahun. Sementara kapasitas produksi domestik masih di bawah kebutuhan itu.

 

Di lain sisi, impor energi juga terasa membebani neraca perdagangan dan kebutuhan devisa, sehingga pemerintah ingin mendorong pemanfaatan bahan baku domestik.

 

Salah satu contohnya Solar. Mandatori biodiesel B50, yaitu campuran 50% biodiesel ke solar, mulai berlaku pada Juli 2026, dan Menteri ESDM mengumumkan Indonesia berhenti mengimpor solar.

 

Bahkan pemerintah juga telah menghentikan izin impor solar jenis CN48 sejak awal 2026. Hal itulah yang akhirnya mendorong pemerintah untuk melakukan hal serupa pada kebutuhan bensin.

 

 

 

Tantangan Produksi Bensin dari Batu Bara

 

Meski sudah mulai serius dibahas dan ada langkah nyata, tetap saja wacana ini masih dibayangi sejumlah tantangan yang mesih diantisipasi pemerintah, mulai dari biaya investiasi, dampak lingkungan, hingga dukungan dari berbagai pihak.

 

Biaya Investasi dan Keekonomian

Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menyatakan tidak memiliki informasi resmi tentang biaya riil pengolahan batu bara menjadi metanol maupun nilai investasinya, karena studi kelayakan umumnya dilakukan tertutup.

 

Kuncinya adalah kemampuan produk menyamai harga produk sejenis di pasar global. Semakin panjang rantai pengolahan, akan semakin banyak juga faktor biaya yang harus diperhitungkan. (sumber: perhapi.or.id)

 

Preseden Proyek Sebelumnya

Air Products and Chemicals asal Amerika Serikat telah mundur dari konsorsium proyek gasifikasi batu bara menjadi DME bersama PTBA dan Pertamina, dalam proyek bernilai investasi sekitar US$2,1 miliar. (sumber: cnnindonesia.com)

 

Menurut bloombergtechnoz.com hingga kini, PTBA masih mencari mitra baru untuk melanjutkan proyek tersebut.

 

Emisi dan Dampak Lingkungan

Penilaian dampak lingkungan juga masih diperdebatkan. Trend Asia menyebut pemrosesan batu bara menjadi metanol atau DME menghasilkan emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca lebih tinggi dibanding bahan bakar fosil biasa.

 

 

 

Dukungan Kebijakan

Pemerintah telah menyiapkan insentif, antara lain perpanjangan kontrak bagi pemegang IUPK yang melaksanakan proyek gasifikasi, royalti 0%, dan fasilitas pajak yang memanfaatkan penerapan Global Minimum Tax.

 

Tapi Trend Asia menilai insentif royalti 0% itu juga perlu diperhitungkan dengan potensi hilangnya penerimaan negara.

 

Dampaknya bagi Logistik dan Rantai Pasok

 

Perubahan pasokan dan harga energi pasti mempengaruhi biaya transportasi dan distribusi. Karena itu, menggandeng mitra logistik yang menyediakan layanan menyeluruh membantu menjaga kelancaran rantai pasok di tengah ketidakpastian.

 

Salah satu perusahaan logistik yang punya layanan Freight Forwarding untuk mendukung operasional logistik adalah SELOG, anak usaha PT Serasi Autoraya (SERA) yang juga bagian dari Grup Astra.

 

Berpengalaman lebih dari 20 tahun, SELOG dikenal sebagai penyedia solusi logistik komprehensif, salah satunya layanan Trucking dengan pilihan armada yang beragam.

 

Selain Trucking, SELOG juga menghadirkan layanan logistik lainnya untuk jadi solusi atas setiap kebutuhan bisnis. Mulai dari Freight Forwarding, Shipping, Warehousing, serta Project Cargo.

 

Layanan SELOG juga didukung penggunaan teknologi digital terkini yang tidak hanya memudahkan, tetapi juga efektif dan efisien bagi bisnis.

 

Salah satunya dengan kehadiran teknologi Astra Fleet Management Solution (AstraFMS) dan Warehouse Management System (WMS).

 

Informasi lebih lanjut tentang profil dan layanan SELOG, kunjungi website www.selog.astra.co.id serta follow media sosial SELOG:

 

Share this:

Artikel Selanjutnya

Tag

© Copyright PT Serasi Autoraya 2026