SERA
SERA
SERA
SERA
SERA
SERA

Tahun 2026, Ini Tantangan Industri Logistik yang Perlu Diantisipasi

Industri logistik Indonesia diprediksi terus menunjukan tren pertumbuhan positif sepanjang tahun 2026.

Stabilitas kondisi ekonomi nasional, peningkatan aktivitas distribusi barang, serta berkembangnya sektor perdagangan menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan ini.

Sektor logistik bahkan diproyeksikan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan estimasi nilai mencapai sekitar Rp1.700 triliun pada 2026.

Peran strategis industri logistik semakin terasa dalam mendukung pergerakan ekonomi, khususnya lewat aktivitas transportasi dan pergudangan.

Peningkatan konsumsi domestik, pembangunan infrastruktur, serta kebutuhan distribusi barang baik di pasar lokal maupun internasional menjadi motor penggerak utama pertumbuhan sektor ini.


Baca juga: 5 Jenis Alat Berat untuk Industri Tambang dan Keunggulannya


Proyeksi Industri Logistik Indonesia di 2026

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap solid, dengan proyeksi pertumbuhan PDB di kisaran 5,1%–5,4%.

Angka ini didukung oleh tingginya permintaan domestik, investasi infrastruktur, serta ekspansi sektor industri dan perdagangan.

Pembangunan fasilitas logistik seperti gudang modern, jaringan jalan tol, serta peningkatan konektivitas pelabuhan dan bandara akan memperlancar arus distribusi barang ke berbagai wilayah Indonesia.

Secara global, ukuran pasar logistik Indonesia diperkirakan mencapai USD 139,35 miliar pada 2026, dengan potensi ekspansi yang masih kuat hingga beberapa tahun ke depan.

Tantangan Industri Logistik di Tahun 2026

Di balik prospek yang menjanjikan, industri logistik tetap akan menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi oleh para pelaku usaha, berikut diantaranya.

1. Biaya Logistik yang Masih Tinggi

Meski pembangunan infrastruktur terus berjalan, rasio biaya logistik terhadap PDB Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan negara-negara di kawasan.

Efisiensi operasional di pelabuhan, distribusi darat, hingga biaya tambahan di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.


Baca juga: Kesalahan yang Tidak Boleh Terjadi Saat Pengiriman Barang


2. Ketidakpastian Iklim Geopolitik

Dinamika geopolitik internasional dapat memicu gangguan rantai pasok global serta fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan logistik dan meningkatkan biaya operasional.

3. Tuntutan ESG (Environmental, Social, and Governance)

Standar global kini semakin menuntut praktik logistik yang ramah lingkungan. Perusahaan yang belum mulai menerapkan konsep green logistics berisiko tertinggal dan kehilangan peluang kerja sama dengan mitra internasional.

4. Keterbatasan SDM Terampil

Percepatan digitalisasi logistik belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia dengan kompetensi yang sesuai. Kesenjangan ini dapat menghambat optimalisasi sistem digital yang sudah diterapkan.

Solusi Menghadapi Tantangan Logistik 2026

Untuk menjawab tantangan tersebut, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci.

Implementasi teknologi seperti National Logistics Ecosystem (NLE) dapat membantu mempercepat proses kepabeanan, mengurangi birokrasi, dan menekan biaya administrasi.

Digitalisasi juga berperan besar dalam meningkatkan efisiensi operasional, mulai dari perencanaan rute, pelacakan pengiriman secara real-time, hingga optimalisasi transportasi.

Selain itu, penerapan model kolaboratif seperti konsolidasi kargo memungkinkan perusahaan logistik berbagi ruang angkut untuk mengurangi perjalanan kosong (empty miles). Strategi ini terbukti efektif dalam menekan biaya operasional.

Pengembangan infrastruktur yang terintegrasi, khususnya di wilayah luar Jawa, juga menjadi faktor penting agar distribusi barang dapat berjalan lebih cepat, merata, dan efisien.


Baca juga: Perbedaan EMKL dan Freight Forwarder: Jangan Salah Pilih


Strategi Agar Industri Logistik Terus Tumbuh di 2026

Agar pertumbuhan industri logistik berjalan berkelanjutan, perusahaan perlu mengadopsi pendekatan yang lebih inovatif dan adaptif. Beberapa strategi kunci yang dapat diterapkan antara lain:

  • Fokus pada last-mile delivery, seiring meningkatnya penetrasi e-commerce hingga ke wilayah pelosok

  • Pemanfaatan data analytics untuk demand forecasting dan manajemen inventaris yang lebih efisien

  • Peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan berkelanjutan di bidang logistik modern dan teknologi digital

  • Pengembangan smart warehousing, dengan integrasi sistem gudang dan transportasi untuk memangkas dwelling time

  • Kolaborasi lintas industri, termasuk dengan sektor manufaktur, ritel, dan e-commerce

Solusi Logistik Terintegrasi untuk Menghadapi Tantangan 2026

Salah satu perusahaan logistik terintegrasi di Indonesia yang dapat menjadi pilihan adalahSELOG, unit bisnis dariPT Serasi Autoraya (SERA) yang juga bagian dari grup Astra.

Berpengalaman lebih dari 20 tahun, SELOG dikenal sebagai penyedia solusi logistik komprehensif, salah satunya layanan freight forwarding domestik dan internasional.

Selain freight forwarding, SELOG juga menghadirkan layanan logistik lainnya untuk menjadi solusi atas setiap kebutuhan bisnis. Mulai dari Trucking, Shipping, Warehousing, serta Project Cargo.

Layanan SELOG juga didukung penggunaan teknologi digital terkini yang tidak hanya memudahkan, tetapi juga efektif dan efisien bagi bisnis.

Salah satunya dengan kehadiran teknologi Astra Fleet Management Solution (AstraFMS) dan Warehouse Management System (WMS).

Informasi lebih lanjut tentang profil dan layanan SELOG, kamu bisa mengunjungi website resmi SELOGwww.selog.astra.co.id serta media sosial di instagram@selog_astra danLinkedin SELOG.

20
Tags
SELOG