





This site uses cookie, to continue browsing this site means you agree to our cookie policy Find out more here. Use Latest Chrome version for the best experience.
Di dunia kerja modern yang serba cepat, banyak karyawan dituntut bekerja lebih sigap, produktif, dan efisien. Akibatnya, multitasking sering dianggap sebagai kemampuan wajib agar pekerjaan cepat selesai.
Padahal, kebiasaan mengerjakan banyak hal sekaligus justru bisa berdampak buruk terhadap fokus, kesehatan mental, hingga kualitas kerja.
Multitasking adalah kondisi saat seseorang mencoba menyelesaikan beberapa pekerjaan di waktu bersamaan. Meski faktanya, otak manusia lebih optimal saat fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu.
Saat dipaksa berpindah-pindah fokus secara cepat, otak harus bekerja lebih keras dan akhirnya memicu kelelahan mental. Itulah alasan mengapa multitasking sering membuat pekerjaan terasa lebih lama selesai dan hasilnya kurang maksimal.
Baca juga: Tips Ampuh Mengelola Stress Karena Pekerjaan
Salah satu dampak paling umum dari multitasking adalah meningkatnya hormon stres. Saat terlalu banyak tugas dikerjakan bersamaan, otak akan terus berada dalam kondisi siaga dan tertekan.
Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah cemas, emosional, dan cepat lelah secara mental. Bahkan, pekerjaan yang sebenarnya sederhana bisa terasa berat karena fokus pikiran jadi terpecah.
Kalau kondisi ini terjadi terus-menerus, stres kerja akan berkembang menyebabkan burnout yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental.
Banyak orang merasa multitasking membuat pekerjaan lebih cepat selesai. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah “switching focus” atau perpindahan perhatian secara terus-menerus.
Setiap kali berpindah tugas, otak butuh waktu untuk menyesuaikan fokus kembali. Semakin sering perpindahan terjadi, semakin besar energi mental yang terkuras.
Akibatnya seseorang sering merasa sibuk terlalu sibuk sepanjang hari, tapi hasil kerjanya tidak maksimal.
Multitasking juga dapat mempengaruhi kemampuan otak dalam menyimpan informasi. Saat perhatian terus terbagi, otak jadi kesulitan memproses detail secara mendalam.
Dampaknya, seseorang jadi mudah lupa, sulit mengingat informasi penting, sering melewatkan detail pekerjaan, hingga kurang teliti saat bekerja.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa menurunkan kemampuan otak dalam menyimpan informasi sementara untuk menyelesaikan tugas.
Otak yang terlalu sibuk berpindah fokus akan lebih sulit berpikir kreatif. Ini karena kapasitas mental habis digunakan untuk “bertahan” menyelesaikan banyak pekerjaan sekaligus.
Padahal, kreativitas membutuhkan ruang berpikir yang tenang dan fokus mendalam. Karena itu, multitasking dapat menghambat ide-ide baru, kemampuan problem solving, hingga inovasi dalam bekerja.
Baca juga: Cara Efektif Mewujudkan Work Life Balance
Saat perhatian terbagi, risiko melakukan kesalahan juga meningkat. Dalam pekerjaan administratif, multitasking bisa menyebabkan salah input data, lupa mengirim dokumen, atau miskomunikasi dengan rekan kerja.
Sementara dalam aktivitas yang butuh konsentrasi tinggi seperti mengemudi atau mengoperasikan alat kerja, multitasking dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Agar tetap produktif tanpa harus memaksakan multitasking, ada beberapa cara sederhana yang bisa diterapkan, seperti:
Tentukan Prioritas Pekerjaan
Susun tugas berdasarkan tingkat urgensi dan kepentingannya. Fokus selesaikan pekerjaan utama lebih dulu sebelum berpindah ke tugas lain.
Gunakan To-Do List
Membuat daftar pekerjaan harian membantu pekerjaan lebih terstruktur dan memudahkan pengaturan waktu.
Terapkan Teknik Mindfulness
Mindfulness membantu meningkatkan fokus terhadap apa yang sedang dikerjakan saat ini, sehingga pikiran tidak mudah terdistraksi.
Kurangi Distraksi
Batasi notifikasi media sosial atau aplikasi yang tidak berkaitan dengan pekerjaan agar konsentrasi tetap terjaga.
Istirahat Secara Teratur
Otak juga butuh jeda untuk memulihkan energi. Luangkan waktu istirahat singkat agar fokus dan produktivitas tetap stabil sepanjang hari.
Multitasking sering dianggap sebagai tanda produktivitas, padahal terlalu banyak membagi fokus justru bisa menurunkan kualitas kerja dan kesehatan mental.
Alih-alih selalu berusaha multitasking, fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu terbukti lebih efektif untuk menjaga konsentrasi, kreativitas, dan performa kerja.
Tapi, selain menerapkan pola kerja yang sehat, penting juga memilih lingkungan kerja yang mendukung keseimbangan hidup dan produktivitas karyawan.
Baca juga: Lowongan Kerja Mei 2026 SERA Grup Astra
Ikuti terus berbagai informasi menarik dan penting seputar industri transportasi, lelang, logistik, tips karir, sertalowongan kerja yang tersedia diPT Serasi Autoraya (SERA) grup. Jangan lupa follow media sosial SERA:
Instagram:@serasiautoraya
Linkedin:Serasi Autoraya