





This site uses cookie, to continue browsing this site means you agree to our cookie policy Find out more here. Use Latest Chrome version for the best experience.
Pemerintah telah resmi menaikan harga tiga jenis bahan bakar minyak (BBM) non subsidi, bahkan hingga 2 kali. Kenaikan pertama diumumkan pada 18 April 2026, disusul kenaikan kedua, 4 Mei 2026 kemarin.
BBM yang mengalami kenaikan adalah Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Kenaikan itu mengacu pada harga pasar, margin, hingga pajak yang dihitung berdasarkan Mean of Platts Singapore (MOPS), acuan utama harga minyak di kawasan Asia Tenggara.
Kenaikan disinyalir dampak dari lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah. Sehingga untuk BBM non subsidi, pemerintah harus melakukan penyesuaian harga agar fiskal tetap terkendali.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan kalau kenaikan ini karena BBM non subsidi digunakan kalangan mampu dan sektor industri, sehingga harganya mengikuti mekanisme pasar.
Kebijakan itu dinilai tidak berdampak besar terhadap ekonomi masyarakat, sebab konsumsi BBM non subsidi juga relatif kecil dan tidak digunakan untuk sektor vital. Lalu apa saja fakta menarik terkait kenaikan harga BBM ini? Berikut selengkapnya.
Baca juga: Mengenal Bill of Lading, Istilah Penting dalam Logistik
Kenaikan pertama di bulan April, di Jakarta harga Pertamax Turbo naik dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter (naik 48%). Lalu pada Mei, harga Pertamax Turbo kembali naik jadi Rp19.900, atau naik hampir 52% dari harga sebelum kenaikan.
Sementara untuk Dexlite, harganya naik dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.600 per liter di bulan April. Persentase kenaikannya mencapai 66%, melebihi kenaikan Pertamax Turbo. Lalu di bulan Mei naik lagi menjadi Rp26.000 atau naik lebih dari 83% dari harga sebelum kenaikan.
Kenaikan tertinggi terjadi pada Pertamina Dex. Di bulan April harganya naik dari Rp14.500 per liter menjadi Rp23.900 per liter (naik 66%). Lalu di bulan Mei harganya melambung jadi Rp27.900 per liter, naik lebih dari 92% dibanding harga sebelum kenaikan.
Seperti yang telah disampaikan Kementerian ESDM, harga BBM subsidi tidak mengalami kenaikan. Harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter, begitu juga dengan Biosolar yang tetap Rp6.800 per liter.
Yang menarik, harga Pertamax dan Pertamax Green juga tidak naik, yaitu Rp12.300 per liter dan Rp12.900 per liter. Padahal keduanya merupakan BBM non subsidi sama seperti Pertamax Turbo.
Baca juga: 5 Cara Efisien Manajemen Warehouse yang Tepat
Kementerian ESDM menyebut naiknya harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengikuti tren kenaikan harga minyak dunia, akibat perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Kenaikan harga BBM non subsidi itu merupakan respons terhadap kondisi pasar global. Sehingga perlu menyesuaikan dengan dinamika harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
Itulah beberapa fakta menarik di balik kenaikan harga BBM non subsidi. Buat Anda yang sering melakukan pengiriman barang, sebaiknya tetap memaksimalkan efisiensi dengan menggandeng perusahaan logistik profesional dan berpengalaman.
Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah menggunakan layanan freight forwarding dari SELOG, anak usahaPT Serasi Autoraya (SERA) yang juga bagian dari Grup Astra.
Berpengalaman lebih dari 20 tahun, SELOG dikenal sebagai penyedia solusi logistik komprehensif, salah satunya layanan freight forwarding, baik domestik maupun internasional.
Selain freight forwarding,SELOG juga menghadirkan layanan logistik lainnya untuk menjadi solusi atas setiap kebutuhan bisnis. Mulai dari Trucking, Shipping, Warehousing, serta Project Cargo.
Layanan SELOG juga didukung penggunaan teknologi digital terkini yang tidak hanya memudahkan, tetapi juga efektif dan efisien bagi bisnis.
Salah satunya dengan kehadiran teknologi Astra Fleet Management Solution (AstraFMS) dan Warehouse Management System (WMS).
Informasi lebih lanjut tentang profil dan layanan SELOG, kunjungi website www.selog.astra.co.id serta follow media sosial SELOG:
Instagram@selog_astra
Linkedin:SELOG